JAKARTA, iNews.id - Belakangan ini media sosial ramai membahas fenomena “lipstick effect” di tengah melemahnya nilai tukar rupiah dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Istilah tersebut menjadi sorotan setelah muncul anggapan pusat perbelanjaan, restoran, hingga coffee shop tetap dipadati pengunjung meski kondisi ekonomi disebut sedang tidak baik-baik saja.
Fenomena ini panas diperbincangkan usai akun X bernama @TwipsX mengunggah penjelasan soal kondisi tersebut. Dalam unggahannya, akun itu menyoroti bagaimana masyarakat masih terlihat aktif berbelanja dan mencari hiburan kecil meski daya beli disebut mulai tertekan.
“Kalian ngerasa nggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.
Istilah lipstick effect sendiri pertama kali populer setelah diamati perusahaan kosmetik Estée Lauder ketika Amerika Serikat mengalami resesi pada 2001 usai tragedi 9/11. Saat itu, penjualan barang-barang mewah bernilai besar mengalami penurunan.
Namun di sisi lain, produk kecil seperti lipstik dan kosmetik justru mengalami peningkatan penjualan. Kondisi itu kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat saat ekonomi sedang sulit.