Hoegeng Marah Jadi Dubes setelah Pensiun Kapolri : Kerjanya Hanya Seremonial

Faieq Hidayat
Kapolri periode 1968-1971 Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso menolak tawaran menjadi Duta Besar. (Foto IG Jenderal Hoegeng Iman Santoso).

Soeharto menampik setelah mendengar pernyataan Hoegeng. "Di Indonesia tidak ada lagi lowongan buat Hoegeng," kata Soeharto. Hoegeng langsung menyatakan berhenti jadi Kapolri saat itu. Banyak yang menilai tawaran menjadi Dubes adalah cara pemerintah Soeharto 'membuang' Hoegeng ke luar Indonesia. 

Setelah diberhentikan menjadi Kapolri, Hoegeng mengembalikan semua barang termasuk mobil dinas. 

Ketika makam malam bersama keluarga, Hoegeng juga menjelaskan alasan menolak menjadi Dubes. Menurutnya, jabatan Dubes harus dipegang seorang diplomat bukan polisi. 

Namun anak-anaknya mencoba menawarkan agar Hoegeng mengambil kesempatan tersebut. Dengan menjadi Dubes, mereka bisa merasakan luar negeri. 

Mendengar hal itu, Hoegeng marah sambil menggedor meja makan. "God verdome! Kamu tahu. Kalau Papimu jadi Dubes, kerjanya hanya seremonial seperti bertemu dengan perwakilan pemerintah negara sambil minum atau makan. Padahal di negara kita ini banyak rakyat yang tengah kesulitan hidup dan makan dan minum saja sulit," katanya. Anak-anaknya yang mendengar langsung diam.

Editor : Faieq Hidayat
Artikel Terkait
2 hari lalu

Pesan Kapolri Jenderal Suyudi ke Pedemo 28 Oktober: Jangan Anarkis

3 hari lalu

Temui Kapolri, Menkomdigi Minta Judi Online hingga Pencuri Kabel Internet Ditindak

3 hari lalu

Kapolri Jenderal Suyudi Bertemu Menkomdigi, bakal Tindak Tegas Judol hingga Love Scam

4 hari lalu

Kapolda Metro Ultimatum Jajaran: Anggota yang Bermain Narkoba Berhadapan dengan Saya!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal