Luhut merupakan rekan satu angkatan Subagyo di Akabri 1970 sekaligus peraih Adhi Makayasa. Jika Luhut menjadi Danjen Kopassus, Subagyo berharap dapat memperoleh jabatan sebagai salah satu panglima divisi Kostrad.
Namun, keputusan penempatan justru mengantarkan Subagyo menjadi pemimpin pasukan elite tersebut. Jabatan itu sekaligus menjadi pencapaian penting bagi prajurit yang pernah tumbuh dan berkarier di lingkungan Kopassus, meskipun sebelumnya sempat bertugas di Paswalpres, Bais ABRI, dan Dispamad.
Setelah sekitar setahun memimpin Kopassus pada 1994-1995, Subagyo mendapat promosi menjadi Pangdam IV/Diponegoro pada 1995-1997. Pada pertengahan Juni 1997, dia kembali memperoleh kepercayaan dengan ditunjuk sebagai Wakil KSAD.
Promosi tersebut terjadi ketika sejumlah perwira yang pernah bertugas di lingkungan pengamanan Presiden ke-2 RI Soeharto turut mendapat penempatan strategis. Subagyo termasuk di antara perwira yang pernah bertahun-tahun menjadi pengawal Soeharto.
Namun, kedekatan dengan presiden saat itu tidak serta-merta menjamin semua perwira mendapat jabatan lebih tinggi. Salim Said pernah menyinggung hal tersebut dalam buku Wawancara tentang Tentara dan Politik.