“Jangan keliru, tidak semua yang dikenal Pak Harto menjadi orang penting. Karena lewat perkenalan itu Pak Harto berkesimpulan, orang-orang itu tidak bisa diberi beban lebih besar dari yang diberikan ketika mereka berada di sekitar Pak Harto,” kata Salim Said dalam buku ‘Wawancara tentang Tentara dan Politik’.
Puncak karier militer Subagyo tercapai pada 16 Februari 1998. Bertempat di Istana Negara, Jakarta, dia dilantik Soeharto sebagai KSAD menggantikan Jenderal TNI Wiranto yang ditunjuk sebagai Panglima TNI.
Subagyo akhirnya benar-benar meraih pangkat jenderal bintang empat, sesuai dengan cita-cita yang pernah ditertawakan teman-temannya. Dia memimpin Angkatan Darat hingga 20 November 1999.
Presiden Prabowo Subianto yang juga sempat menjabat sebagai Danjen Kopassus mengenang Subagyo sebagai sosok panutan. Prabowo menilai Subagyo memiliki sifat ramah, loyal, setia, serta selalu membela anak buahnya.
“Saya kira tidak keliru kalau orang-orang memberi julukan beliau sebagai Bima. Mungkin tampangnya garang dengan kumis lebat, tapi beliau selalu senyum bahkan ramah dan selalu penuh humor,” kata Prabowo dalam biografinya, Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto.