Melihat yang Tak Lagi Berarti Percaya: Krisis Kebenaran di Era Deepfake

iNews
Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok Pribadi)

Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org

"MELIHAT BERARTI PERCAYA" adalah ungkapan yang mengemuka saat khalayak Amerika menyaksikan Kepala Polisi Vietnam Selatan Brigadir Jenderal Nguyễn Ngọc Loan menembak secara brutal tawanan Viet Cong, Nguyễn Văn Lém. Peristiwa di jalanan Saigon itu terekam dalam foto karya jurnalis Associated Press, Eddie Adams, pada 1 Februari 1968. Karya jurnalistik ini kemudian dikenal sebagai Saigon Execution dan ramai diperbincangkan sehari setelah peredarannya. 

Khalayak, terutama warga Amerika yang pemerintahnya mengirim pasukan militer, membela Vietnam Selatan dalam kecamuk perang dengan Vietnam Utara itu, jadi bergeser opininya. Dukungan yang semula diberikan untuk mencegah penyebaran ideologi komunis, berubah jadi kecaman. Mereka juga meminta segera menarik pasukan militer Amerika dari Vietnam. 

Pesan kebiadaban yang terpancar lewat gambar saat itu, produk visual tak terancam keasliannya oleh manipulasi deepfake, mampu ditangkap secara utuh. Rasa percaya terbangun. Perang tak punya sedikit pun sisi kemanusiaan untuk dibela. Lewat foto itu, walau tanpa narasi berlebihan maupun konteks yang lengkap realita diantarkan. Opini yang berubah jadi indikasinya. 

Ungkapan soal empirisme visual ada gambarnya maka layak dipercaya, juga terepresentasi lewat siaran langsung telvisi yang diselenggarakan NASA. Siaran ini disaksikan jutaan pasangan bola mata penduduk bumi. Pada hari itu, 20 Juli 1969, diluncurkan Apollo 11 dan pendaratan pertama manusia di Bulan. Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collin, diperlihatkan benar-benar menginjakkan kakinya di atas permukaan benda langit, tetangga dekat Bumi itu. 

Peristiwanya dicatat sebagai supremasi luar angkasa Amerika, walaupun lewat ungkapan diperhalus sebagai pencapaian seluruh umat manusia. Ini termenifestasi lewat penyataan Neil Amstring, "That's one small step for a man, one giant leap for mankind". Sebuah langkah kecil bagi manusia, namun lompatan besar bagi umat manusia. 

Soal diperlukannya gambar sebagai sarana percaya ini, memang bukan hal baru dalam sistem berpikir manusia. Realitasnya dikonfirmasi oleh banyak psikolog, walaupun ada koreksi di sana-sini. Koreksi soal penglihatan, yang bukan satu-satunya sumber pembangun kepercayaan. Salah satunya, diungkapkan Nuala G. Walsh, 2023, lewat tulisannya: "Misjudgement: Why We Trust What We See vs. What We Hear. Tuning out voices that matter slowly degrades our decisions”. Disebutkannya kurang lebih, ribuan gambar di smartphone dengan aplikasi TikTok, juga Instagram, mampu merangsang otak. Hal yang terlihat lebih dapat dipercaya daripada yang didengar. Namun hal yang telah menjadi kelaziman khalayak ini, dapat menjadi kesalahan umum. Dengan hanya bertumpu pada penglihatan untuk percaya, dapat secara langsung menurunkan kualitas keputusan. Keputusan yang prosesnya mengabaikan hal-hal yang disediakan pendengaran. 

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Internasional
3 hari lalu

PM Israel Netanyahu kembali Muncul di Medsos Serukan Dunia Lawan Iran, Video AI?

Internasional
4 hari lalu

Netanyahu Posting Video Lagi, Netizen Soroti Manset Kemeja: Ini AI!

All Sport
5 hari lalu

Hasil FP2 MotoGP Brasil 2026: Ai Ogura Kalahkan Marc Marquez di Detik Terakhir!

Shorts
9 hari lalu

AS Tuding Pendukung Mojtaba Khamenei Palsu, Hanya Rekayasa AI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal