Melihat yang Tak Lagi Berarti Percaya: Krisis Kebenaran di Era Deepfake

iNews
Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok Pribadi)

Namun dari seluruh pernyataan itu tersirat khalayak biasa membangun kepercayaan, terutama dengan bertumpu pada penglihatannya. Kebiasaan ini dapat menyesatkan. Dengan mengandalkan penglihatan saja, informasi khas yang hanya dapat diterima masing-masing indera jadi terbendung. Ini yang dimaksud Walsh sebagai menurunnya kualitas keputusan. Sebab bisa jadi, informasi dari sumber lain justru memperbaiki, bahkan membatalkan informasi yang ditangkap penglihatan. Mengabaikan keragaman sumber informasi, berarti membiarkan realitas tak hadir utuh. 

Hari ini pernyataan Walsh itu jadi relevan dengan kehadiran deepfake beserta ekosistemnya. Terdapat unsur ekosistem untuk menerima deepfake sebagai sarana pembentuk kepercayaan. 

Pertama, teknologi berbasis AI yang makin sempurna. Ini menyebabkan formulasinya makin tak mudah dikenali dengan hanya mengandalkan mata telanjang. Juga, ketika hanya berbekal pengetahuan awam. Kedua, cara berpikir manusia yang telah mengalami perubahan, seiring membanjirnya informasi. Perubahan akibat adaptasi, untuk merespons cepat kedatangan informasi yang tak pernah berhenti. Dan ketiga, makin sempurnanya penerapan strategi penggunaan deepfake. Sering kali deepfake ditumpangkan pada konten dengan konteks yang telah diterima khalayak, bahkan ketika formulasinya tak punya acuan di dunia nyata. 

Bekerjanya deepfake beserta ekosistemnya itu, dapat dengan mudah disaksikan dalam kecamuk perang antara Iran dengan Amerika-Israel yang berlangsung hingga hari ini. Kerap beredar video deepfake yang menarasikan dihancurkannya permukiman-permukiman sipil oleh luncuran peluru kendali. Luluh lantaknya tempat tinggal, diikuti penyebutan jumlah korban usia anak maupun warga yang tak bersalah. Walaupun pada akhirnya disadari merupakan konten manipulasi, namun telah berhasil mengaduk-aduk emosi khalayak. Produsennya, para pihak yang terlibat dalam pertikaian: Iran maupun Amerika-Israel. Tujuan diedarkannya deepfake semacam itu, adalah melunturkan dukungan pada pihak yang dianggap membabi-buta menghancurkan tempat-tempat yang tak seharusnya diserang. Timbulnya korban, memperdalam kegeraman. 

Deepfake juga diproduksi untuk menggelorakan keberhasilan serangan pada instalasi strategis lawan. Ini bertujuan memperkuat moral pasukan atas keberhasilan yang telah dicapai. Setidaknya memperbesar harapan meraih kemenangan. Deepfake jadi alat propaganda ampuh hari ini. 

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Internasional
3 hari lalu

PM Israel Netanyahu kembali Muncul di Medsos Serukan Dunia Lawan Iran, Video AI?

Internasional
4 hari lalu

Netanyahu Posting Video Lagi, Netizen Soroti Manset Kemeja: Ini AI!

All Sport
5 hari lalu

Hasil FP2 MotoGP Brasil 2026: Ai Ogura Kalahkan Marc Marquez di Detik Terakhir!

Shorts
9 hari lalu

AS Tuding Pendukung Mojtaba Khamenei Palsu, Hanya Rekayasa AI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal