Melihat yang Tak Lagi Berarti Percaya: Krisis Kebenaran di Era Deepfake

iNews
Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok Pribadi)

Lantaran kerapnya peredaran deepfake di tengah perang itu, tanpa disadari keprihatinan pada krisis kemanusiaan tereduksi, jadi sekadar permainan tebak-tebakan global. Tebak-tebakan, “ini deepfake atau asli?” Ini nyata, saat beredar video-video Benjamin Netanyahu yang dikabarkan telah tewas. Tewas akibat serangan bertubi-tubi peluru kendali Iran. Untuk menepisnya, Perdana Menteri Israel itu dihadirkan lewat tayangan video oleh berbagai media berita. Judulnya seputar: “Netanyahu Asli atau AI?” Artinya tak pasti Netanyahu masih hidup atau tinggal formulasi AI-nya?

Propaganda yang memanfaatkan teknologi mutakhir di atas, bisa membangun kepercayaan ketika ekosistem penerimaan pabrikasi deepfake-nya, telah terbentuk. Ketiga unsurnya telah hadir. Penerimaan realitas palsu ini, justru mengacaubalaukan kepastian. 

Seluruhnya kemudian menjadi tantangan manusia hari ini. Yang bukan saja mengancam eksistensinya, akibat sistemnya yang makin sempurna dan siap mengambil alih peran manusia. Namun kekerapan kehadiran material manipulasi deepfake yang turut membangun realitas, memengaruhi kualitas keputusan manusia dalam menentukan jalan hidupnya.
    
Nadia Naffi, 2025, dalam “Deepfakes and The Crisis of Knowing”, menyebut kurang lebih: di dunia media sintetis tingkat lanjut, literasi AI bukan hanya tentang menggunakan perangkat AI, tapi tentang bertahan hidup dalam realitas yang dimediasi AI. Dalam keadaan ini, melihat dan mendengar bukan lagi berarti percaya. Pernyataan Naffi ini dapat ditafsir sebagai makin longgarnya kepastian. Kepastian yang dikacaubalaukan oleh kehadiran produk-produk manipulasi AI, berwujud deepfake. Kekerapan kehadirannya dinormalisasi sebagai kelaziman. Sementara tanpa kehadirannya, jelas ada perbedaan yang signifikan. 

Dalam konteks perang yang merupakan keadaan ekstrem dibanding kehidupan sehari-hari, status pasti hidup-matinya seorang pemimpin, lebih mudah digunakan sebagai acuan menyusun strategi menyerang atau bertahan. Ini ketika dibandingkan dengan keadaan yang dibangun oleh peredaran video sang pemimpin yang dicurigai sebagai produk manipulasi. Kekerapannya justru meniadakan kepastian. Kehidupan sehari-hari yang diwarnai kekerapan manipulasi deepfake pun akan berubah gamang. Kepastiannya sulit segera ditetapkan.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Internasional
3 hari lalu

PM Israel Netanyahu kembali Muncul di Medsos Serukan Dunia Lawan Iran, Video AI?

Internasional
4 hari lalu

Netanyahu Posting Video Lagi, Netizen Soroti Manset Kemeja: Ini AI!

All Sport
5 hari lalu

Hasil FP2 MotoGP Brasil 2026: Ai Ogura Kalahkan Marc Marquez di Detik Terakhir!

Shorts
9 hari lalu

AS Tuding Pendukung Mojtaba Khamenei Palsu, Hanya Rekayasa AI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal