Melihat gejala makin longgarnya kepastian, Naffi kemudian menumpukan harapannya soal bertahan hidup dalam realitas yang dimediasi AI itu, kepada dunia pendidikan. Menurutnya, bidang ini harus berperan mengajarkan melampaui sekadar deteksi manipulasi deepfake. Alih-alih hanya mampu menggunakannya, para siswa diajarkan cara menavigasi kebenaran, pengetahuan, maupun ketidakpastian yang dimediasi oleh AI. Pengajaran yang sekadar memampukan siswanya mendeteksi manipulasi deepfake, memunculkan ancaman. Wujudnya berupa kebutaan pada gangguan yang lebih mendalam, sebagai krisis epistemologis. Krisis kebenaran dan pengetahuan. Ini secara mendasar memengaruhi cara menetapkan kebenaran dan pengetahuan. Kebenaran yang diabaikan landasan acuannya di dunia nyata. Juga pengetahuan, yang dibangun oleh material manipulatif.
Pada dunia yang makin longgar kepastian pengetahuan dan kebenarannya yang merupakan fenomena luas hari ini, memperketat syarat pembentukannya, merupakan jalan yang harus ditempuh untuk memulihkannya. Pengetahuan dan kebenaran yang alih-alih hanya bertumpu pada citra visual, dituntut pelampauannya. Tak hanya mengandalkan representasi, sebatas citra yang dapat ditangkap pancaindera. Ketika “melihat yang tak lagi berarti percaya”, pengetahuan dan kebenaran tidak boleh direduksi hanya “pada yang tampak” maupun “pada yang didengar”. Epistemologinya harus diuji lintas perspektif. Ada jaringan logis yang menggabungkan bukti empiris, konsistensi logis, maupun verifikasi sosial.
Maka, untuk memastikan Netanyahu masih hidup, harus disaksikan secara langsung, punya bukti logis yang disaksikan bukan samarannya, dan ada pernyataan hal yang sama lebih dari satu orang. Tanpa itu semua, sosok yang disaksikan belum terbukti kebenarannya.
Memang, hidup di era deepfake jadi makin runyam bukan?