Mendapat simpati rakyat karena mewakili kegelisahan masyarakat, PNI justru dicap sebagai partai terlarang. Belanda menangkap Soekarno dan menjebloskannya ke Penjara Banceuy untuk diadili di Gedung Landraad dengan tuduhan makar.
Di gedung inilah Soekarno muda dengan gagah perkasa membacakan pleidoi fenomenal berjudul "Indonesia Menggugat". Dari pleidoi ini, nama Soekarno justru mendunia, meski membuatnya harus mendekam di Penjara Sukamiskin. Kelak karena pengaruhnya semakin besar, Soekarno dibuang ke Ende, Flores. Tapi justru di sanalah Soekarno muda mendapatkan ide cemerlang tentang dasar negara: Pancasila.
Mengapa harus orang muda? Karena Soeharto terbaik adalah Soeharto muda. Dia menstabilkan kondisi sosial politik dan keamanan di tengah krisis, lalu membangkitkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi di masa orde lama, mencapai swasembada pangan, sembako yang terjangkau, nilai tukar rupiah yang kuat, pembangunan infrastruktur yang masif, hingga program transmigrasi untuk pemerataan pembangunan. Ini menjadi legacy kepemimimpinan Soeharto.
Tak seperti saat muda, di masa tuanya, banyak para pemimpin bangsa yang sering kali mulai kehilangan kendali atas dirinya dan keputusan politiknya. Ada yang ingin menjadikan diri sebagai presiden seumur hidup, melindungi bisnis keluarga, maupun menjaga kekuasaannya dengan segala cara. Rekan seperjuangan yang berbeda pandangan disingkirkan, dijebloskan ke penjara, hingga diberi cap radikal dalam catatan sejarah.
Demokrasi tercederai karena mulai masuknya kepentingan kelompok, politik dinasti, dan oligarki dari bisnis anak-anak pemimpin negeri yang tak lagi bisa dihindari.