Menkes Dukung Kebijakan PTS, Kepala BKKBN: Rerata Satu Anak Perempuan Bukan Mewajibkan

Rizqa Leony Putri
Prosesi penandatanganan Kesepakatan Bersama Komite Kebijakan Sektor Kesehatan antara Kementerian Kesehatan, BPJS, BPOM, dan BKKBN tentang Integrasi Service Delivery dan Interoperabilitas Data Bidang Kesehatan. (Foto: dok BKKBN)

“Saya merasa sudah tiga kali  integrasinya sudah jalan. Jadi, saya harapkan ke depannya semua permasalahan di sektor kesehatan kita bisa didiskusikan bareng-bareng, nggak sendiri-sendiri, sehingga bisa saling sinergi,” tuturnya.

Pada acara ini juga dilakukan prosesi penandatanganan Kesepakatan Bersama Komite Kebijakan Sektor Kesehatan antara Kementerian Kesehatan, BPJS, BPOM, dan BKKBN tentang Integrasi Service Delivery dan Interoperabilitas Data Bidang Kesehatan.

“Ketahuan di BPJS misalnya sakitnya apa, di kita datanya ada, nah itu bisa di integrasi. Kita (Kemenkes) punya data ibu anak, beliau (BKKBN) ada data ibu anak, itu bisa diintegrasi, sehingga teman-teman daerah nggak usah data entrynya dua kali. Datanya jadi lebih bagus kualitasnya karena data yang dari beliau (BKKBN),” ujarnya.

Isu Viral

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa tugas BKKBN di antaranya adalah peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak. “Yang ada irisannya dengan kerja BKKBN saya kira kualitas SDM melalui keluarga,” ucapnya.

Dia mengatakan, BKKBN akan mendiskusikan bersama Kemenkes, BPJS dan BPPOM tentang Keluarga Berencana, pelayanan terkait dengan stunting, dan juga integrasi dengan BPJS dan BPPOM. Dirinya pun menanggapi isu viral satu perempuan yang melahirkan rerata satu anak perempuan agar PTS terjaga.

“Rata-rata perempuan  punyak anak sudah tidak dua kalau di daerah tertentu seperti Bali, DKI, DI Yogyakarta (karena TFR sudah di bawah 2,1). Sebetulnya rata-rata perempuan punya dua anak itu penting," ucapnya.

Dia menegaskan kata ‘rata-rata’ satu anak perempuan, bukan berarti mewajibkan. “Kalau depan rumah punya anak perempuannya dua, belakang rumah nggak punya anak perempuan no problem. Jangan dipelintir ya, tapi rata-rata,” ucapnya.

“Di kampung ada perempuan 10. Mestinya besok pada generasi berikutnya minimal juga ada perempuan 10. Tapi rata-rata kan ini. Karena tugas kita menjaga agar pertumbuhan penduduk seimbang,” tuturnya.

Editor : Rizqa Leony Putri
Artikel Terkait
10 hari lalu

Menteri Kesehatan Ingatkan Bahaya Abu Krakatau pada Organ Pernapasan, Mata, dan Kulit

10 hari lalu

Menkes Budi Soroti Layanan LVAD di Indonesia, Tak Ingin Hanya Terpusat di Jawa

10 hari lalu

Tak Hanya Saluran Napas, Abu Vulkanik Anak Krakatau Membahayakan Mata hingga Kulit!

10 hari lalu

Menkes Imbau Warga Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Tetap di Rumah dan Jangan Panik

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal