Konten itu kemudian memicu perdebatan luas di media sosial mengenai batas privasi di ruang publik, etika pembuatan konten, hingga perlindungan terhadap perempuan dari praktik perekaman tanpa izin.
Belakangan, Ebemartono telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Dia mengakui kesalahan karena merekam tanpa meminta izin terlebih dahulu dan menyatakan tidak memiliki niat merugikan pihak mana pun.
Menurut Ebemartono, konten yang dibuatnya bertujuan untuk mendorong orang lain agar lebih percaya diri dalam berinteraksi. Namun, ia mengakui cara yang ditempuhnya keliru dan berjanji menjadikan kasus tersebut sebagai pelajaran.