JAKARTA, iNews.id - Pasar pelumas (oli) global dan nasional tengah menghadapi tekanan besar di tengah ketidakpastian geopolitik serta fluktuasi harga minyak mentah dunia. Konflik di Timur Tengah, ancaman gangguan distribusi energi di Selat Hormuz, hingga ketegangan perdagangan global membuat industri pelumas berada dalam situasi penuh tantangan.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi faktor utama yang memengaruhi industri pelumas. Sebab, base oil atau bahan baku utama pelumas berasal dari turunan minyak bumi.
Ketika harga crude oil melonjak akibat konflik geopolitik, biaya produksi pelumas ikut terdorong naik. Bank Dunia bahkan memperkirakan harga minyak bisa menembus 115 dolar AS per barel apabila konflik berkepanjangan terus mengganggu pasokan global.
Di Indonesia, tekanan tersebut mulai dirasakan para pelaku industri. Sejumlah produsen oli melakukan penyesuaian harga jual akibat kenaikan biaya bahan baku, logistik, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ini membuat rantai pasok industri otomotif, termasuk pasar pelumas, menjadi semakin kompleks.
Kondisi tersebut juga dirasakan produsen pelumas Top 1. Head of Sales Division Top 1, Rahman Rahadian mengatakan penyesuaian harga sulit dihindari di tengah kondisi geopolitik saat ini.