Dia juga menyoroti hubungan sosial, budaya, dan kekerabatan masyarakat yang terjalin lintas negara. Kondisi itu membentuk pola perlintasan, baik untuk perdagangan maupun kunjungan keluarga.
Tito mencontohkan, pengalaman di Papua Nugini. Sejumlah warga negara Papua Nugini tinggal di wilayah perbatasan Indonesia. Sebaliknya, beberapa orang Indonesia juga tinggal di Papua Nugini.
“Di Papua Nugini, warga negara Papua Nugini ada yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia, saya pernah bertemu dengan mereka. Dan beberapa orang Indonesia juga tinggal di Papua Nugini. Ini cukup unik bagi kami,” ucapnya.
Selain pengembangan kawasan, penyelesaian persoalan perbatasan tetap menjadi perhatian. Tito mengapresiasi pembicaraan dengan Malaysia yang telah menghasilkan penyelesaian sejumlah area sengketa. Meski begitu, perhatian kini tertuju pada Pulau Sebatik. Pulau yang terbagi antara Indonesia dan Malaysia itu memiliki karakteristik tersendiri dalam pengelolaan perbatasan.
BNPP bersama kementerian dan lembaga terkait membentuk tim khusus. Tim ini akan membahas persoalan Pulau Sebatik bersama pemerintah Malaysia. Langkah itu menunjukkan pengelolaan perbatasan tidak hanya soal garis di peta, tetapi juga tata kelola kawasan dan kehidupan masyarakat.
Melalui Indonesia Border Partnership Coffee Morning, BNPP membangun ruang dialog dengan negara-negara tetangga. Forum ini memperkuat pemahaman dan komunikasi dalam pengelolaan perbatasan. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga batas negara sekaligus mengembangkan kawasan perbatasan sebagai ruang interaksi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.