Selain kondisi neraca transaksi berjalan, pasar juga mewaspadai potensi tekanan inflasi pangan akibat anomali iklim.
Ibrahim mengatakan, fenomena El Niño berpotensi mengganggu produktivitas pertanian nasional apabila tidak diantisipasi dengan baik. Penurunan produksi dapat memengaruhi pasokan sejumlah komoditas pangan dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
"Kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat El Niño sangat beralasan karena fenomena kekeringan panjang dapat menurunkan produksi pertanian, sehingga pasokan beras dan komoditas lain berkurang. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga barang yang pada akhirnya berisiko menggerus daya beli serta tingkat kepercayaan masyarakat," kata dia.
Dengan mempertimbangkan sentimen penurunan yield Treasury AS, solidnya pertumbuhan kredit perbankan, serta risiko dari dinamika pangan dan transaksi berjalan, rupiah dinilai masih memiliki ruang untuk menguat.
Untuk perdagangan Senin pekan depan, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.640 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan sepekan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.600 sampai Rp17.900 per dolar AS.