"Pengusahanya dari China, punya perusahaan di sini, orang China semua, enggak bisa bahasa Indonesia. Jual langsung ke klien cash based, enggak bayar PPN, saya rugi banyak itu. Nanti kita tindak dengan cepat," tutur dia.
Purbaya mengaku heran mengapa perusahaan asing yang cukup familiar itu bisa beroperasi bebas tanpa terdeteksi oleh aparat pajak dan bea cukai selama ini.
"Kalau saya tahu, mereka pasti lebih tahu dari saya," ujar dia.
Menanggapi sindiran Prabowo, Purbaya mengultimatum jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu. Dia memberikan waktu satu tahun bagi Bea dan Cukai untuk berbenah secara total.
"Kalau Bea Cukai ancamannya clear dari sana. Kalau enggak bisa betulin setahun ya betul-betul dirumahkan. Jadi saya akan selamatkan, supaya 16.000 orang itu tetap bekerja, tapi yang bagus yang kerjanya. Yang jelek-jelek kita akan rumahkan. Saya akan kotakin betul," ucap Purbaya.
Untuk menutup celah kebocoran tersebut, kata dia, Kemenkeu akan mengandalkan analisis data canggih dari Lembaga Nasional Single Window (LNSW) serta mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI). Penggunaan teknologi itu diharapkan mampu mendeteksi profil risiko per kapal secara realtime, sehingga praktik manipulasi nilai ekspor tidak bisa lagi dilakukan.