Sementara data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan juga turut menekan Dolar AS. Data ADP Employment Change menunjukkan bahwa jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38.000 pada bulan Agustus, berada di bawah perkiraan 47.000 dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46.000.
Terkait kebijakan moneter, para pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada pertemuan bulan September, terutama setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengambil sikap lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole pekan lalu.
Dari sentimen dalam negeri, Destry Damayanti dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia menjadikannya perempuan pertama yang memimpin bank sentral tersebut. Dalam sidang penetapannya, dia berkomitmen untuk menjaga kebijakan tetap responsif terhadap tantangan ekonomi sembari mendorong stabilitas dan mendukung pertumbuhan.
Arah kebijakan yang dia usung berfokus pada beberapa poin penting yaitu kebijakan bank sentral ke depan akan berlandaskan pada prinsip Impactful (berdampak), Inklusif, dan Integratif. Ketiganya disatukan dalam komitmen Sinergi Merah Putih untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional.
Selain itu, untuk menghadapi tantangan domestik seperti pengendalian inflasi, BI berkomitmen meningkatkan koordinasi erat dengan kementerian dan lembaga terkait guna menciptakan iklim sektor riil yang kondusif serta BI bersiap merumuskan kebijakan domestik yang responsif terhadap ketidakpastian global, termasuk tren suku bunga acuan negara maju yang bertahan tinggi (higher for longer).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.630-Rp17.680 per dolar AS.