Indonesia masih memiliki struktur ekonomi yang heavily import-dependent, terutama untuk energi, bahan baku industri, dan barang modal.
Akibatnya, setiap pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya produksi nasional. Dunia usaha menghadapi cost-push inflation, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Dalam situasi ini, pemerintah mencoba melakukan yield management melalui intervensi pasar obligasi.
Tujuannya adalah menjaga agar imbal hasil Surat Berharga Negara tidak melonjak terlalu tinggi akibat aksi jual investor asing.
Ketika harga obligasi jatuh dan yield naik tajam, biaya utang pemerintah ikut meningkat dan persepsi risiko terhadap Indonesia membesar.