Sampah Datang, Spanduk Bertindak: Ketika Doa dan Amarah Bersatu Demi Lingkungan

Yunaldi Libra
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta, Yunaldi Libra. (Foto: Istimewa)

Tantangan terhadap Sistem Pengelolaan Sampah

Keberadaan spanduk ini menyiratkan kritik terhadap sistem pengelolaan sampah formal yang dianggap tidak memadai. Warga yang membuat dan memasang spanduk seringkali melakukannya karena merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari pihak berwenang. Kondisi inilah yang membuat masyarakat mengambil alih peran pengawasan, penyuluhan, dan bahkan "penegakan hukum sosial" dengan cara mereka sendiri.

Dalam analisis sosial, hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam sistem komunikasi resmi. Masyarakat menciptakan saluran alternatif, ketika saluran formal gagal menyampaikan pesan yang efekti. Saluran komunikasi alternatif yang lebih sesuai dengan konteks lokal dan lebih menyentuh hati khalayak, menjadi kekuatan media komunitas dalam krisis komunikasi publik.

Lokalitas dan Budaya Visual

Spanduk protes larangan buang sampah yang muncul di berbagai daerah juga mencerminkan karakter lokal. Di Bantul, gambar pocong dijadikan sebagai simbol horor untuk menakuti pembuang sampah. Di Jember, warga menggunakan nada sindiran lokal. Ini menunjukkan bahwa media lokal sangat kaya secara visual dan budaya. Simbol dan pesan yang digunakan menjadi efektif karena tidak dilepaskan dari konteks budaya dan bahasa lokal. (Kress & van Leeuwen, 2006).

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi spanduk juga artefak budaya. Spanduk  menggambarkan bagaimana masyarakat menegosiasikan nilai-nilai ekologis dengan cara mereka sendiri. Melalui media sederhana tersebut masyarakat menunjukkan kreativitas luar biasa dalam menyampaikan pesan dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Pemerintah Harus Dengarkan Suara Warga 

Spanduk larangan buang sampah menjadi representasi dari jeritan hati masyarakat. Ia menjadi simbol komunikasi ekologis yang muncul dari partisipasi akar rumput. Bukan hanya ekspresi kemarahan, tetapi juga harapan akan lingkungan yang lebih bersih dan adil.

Pemerintah dan lembaga terkait seharusnya serius dalam menanggapi dan tidak memandang sebelah mata bentuk komunikasi ini. Pemerintah perlu menjadikannya inspirasi dalam membangun kampanye lingkungan yang lebih efektif, berakar pada nilai lokal, emosional, dan partisipatif.

Solusi terbaik dalam keberhasilan kampanye lingkungan adalah dengan mendengarkan suara  warga. Bukan karena mereka yang paling terdampak, tapi karena mereka juga pemilik solusi.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
Nasional
26 hari lalu

Hadiri Rakernas Perindo, Raffi Ahmad Sebut Komunikasi Jadi Kunci Capai Kesuksesan

Nasional
2 bulan lalu

Prabowo Rilis Perpres Pengolahan Sampah Jadi Energi Terbarukan

Bisnis
3 bulan lalu

BRI Peduli Beri Pelatihan Diversifikasi dan Penguatan Mutu Produk Pupuk Kompos di Bali

Nasional
3 bulan lalu

Take Home Pay Anggota DPR Rp65,5 Juta, Komunikasi Intensif Jadi Tunjangan Terbesar

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal