"Kita merawat identitas masing-masing sekaligus mengakui sejarah budaya yang saling terhubung dan share heritage yang hidup melintasi batas-batas negara," ujar Fadli.
Di Indonesia, Zapin berkembang dalam berbagai bentuk dan penyebutan. Selain dikenal sebagai Zapin atau Zafin, sejumlah daerah mengenalnya dengan nama Jepin maupun Japin.
Perbedaan bentuk tersebut menjadi bagian dari kekayaan tradisi Zapin. Setiap komunitas dapat memiliki ciri khas gerakan, musik pengiring, maupun cara pewarisan yang berbeda, tetapi tetap berada dalam rumpun tradisi yang saling berkaitan.
Fadli mengatakan Indonesia memiliki tugas untuk menghubungi berbagai komunitas yang masih aktif melestarikan Zapin. Pemerintah juga akan mengumpulkan dukungan komunitas serta memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam proses pencalonan.
Dengan demikian, masyarakat yang selama ini menjaga dan mempraktikkan Zapin menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju UNESCO. Tradisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan, tetapi sebagai warisan budaya yang masih hidup dan diwariskan antargenerasi.