Menurut Gubernur, pertumbuhan WUB dan IKM membutuhkan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha dan pelaku usaha. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus berupaya membuka ruang promosi dan memperluas akses pasar bagi produk lokal.
“Kita ingin wirausaha baru yang tumbuh di Maluku Utara dapat berkembang menjadi usaha yang kuat dan berdaya saing. Karena itu, akses promosi, jejaring dan pasar harus terus kita buka,” katanya.
Dalam pameran tersebut, Disperindag Maluku Utara memfasilitasi keikutsertaan Pakesang, Amalia Queenlove, Sulamina, dan KTH Buku Manyeku. Keempat pelaku usaha tersebut membawa ragam produk yang merepresentasikan potensi komoditas dan kekhasan produk Maluku Utara.
Pakesang antara lain memperkenalkan Aer Guraka, berbagai varian kopi, olahan kenari dan sagu. Amalia Queenlove menghadirkan Halua Kenari, Kue Putar Mini dan Biskuit Kenari Rempah. Sementara Sulamina menampilkan sejumlah varian produk cokelat, sedangkan KTH Buku Manyeku membawa minyak cengkeh.
Bagi Disperindag, kehadiran WUB dan IKM dalam pameran seperti ini tidak berhenti pada kesempatan memajang produk. Pelaku usaha juga mendapatkan pengalaman untuk memahami selera pasar, melihat perkembangan produk, memperluas jaringan serta mengukur kesiapan usaha untuk masuk ke pasar yang lebih besar.