PO Bus NPM didirikan sejak zaman penjajahan Belanda pada 1937 oleh Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang. (Foto: Tangkapan Layar YouTube PerpalZ TV/NPM)
Siska Permata Sari

JAKARTA, iNews.id - Tahukah Anda perusahaan otobus (PO) manakah yang tertua di Indonesia? Jawabannya adalah Naikilah Perusahaan Minang atau yang lebih dikenal dengan nama singkatan NPM.  

Perusahaan jasa transportasi ini didirikan sejak zaman penjajahan Belanda pada 1937 oleh Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang. Awal usahanya adalah dari bendi atau dokar. 

Namun, seiring perkembangan zaman perusahaan otomotif masuk ke Indonesia, Bahauddin mendirikan perusahaan angkutan bus NPM bersama rekannya.

Perusahaan keluarga berbasis di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat tersebut kini dikelola generasi ketiga di bawah pengelolaan Angga Vircansa Chairul.
 
"Tidak terbanyangkan pendahulu kami tidak hanya melancarkan orang bepergian antar daerah, tapi juga mengirimkan surat dan dokumen Pos Negara (PT Pos)  saat itu," ujar Angga dilansir dari kanal YouTube PerpaZ TV

Pada masa-masa awal, PO NPM hanya melayani beberapa trayek dalam provinsi Sumatra Barat. Beberapa puluh tahun kemudian berkembang dengan membuka rute ke berbagai kota di pulau Sumatra. 

"Pada generasi kedua yang melanjutkan adalah ayah saya Chairul Bahauddin. Dari sembilan bersaudara, ayah saya anak bungsu. Saat SMA mau kuliah, beliau disuruh tangani perusahaan oleh kakek saya," kata Angga.

Pada dekade 1980-an, PO NPM mulai menjalani trayek ke pulau Jawa. Dari Sumatera Barat, PO NPM memulai pemberangkatan ke berbagai jurusan di pulau Jawa dari beberapa kota, seperti Padang, Bukittinggi, Pariaman, Payakumbuh, dan lainnya.

Pada puncak kejayaannya, Di era 1900-an hingga awal 2000 jaringan trayek PO NPM membentang mulai dari Medan, Pekanbaru, Dumai, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bandar Lampung di pulau Sumatra, hingga Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Bandung di pulau Jawa. NPM juga melayani trayek utama di Sumbar, yaitu Padang – Bukit Tinggi.

"Era 1990-an merupakan masa keemasan transportasi darat. Untuk Padang menuju Medan bisa 40 bus per hari. Coba hitung dalam satu hari ada tujuh rit dari jam 5 pagi. Berarti setiap 5 menit ada bus NPM lewat, termasuk bus-bus lainnya," kata Angga.

Memasuki tahun 2000-an tantangan besar dialami semua PO bus. Menurunnya angkutan penumpang bus jarak jauh karena berbagai faktor, seperti harga tiket pesawat murah, mudahnya mendapatkan mobil pribadi melalui kredit, dan maraknya perusahaan travel yang menggunakan mobil kecil. Ini menyebabkan banyak armada bus besar seperto PO NPM menganggur dan menyebabkan kerugian.

"Situasi ini menjadi tantangan. Saya sendiri awalnya tidak berkecimpung di dunia bus. Saya lulus kuliah S2 dari Australia. Namun, ayah meninggal pada 2006. Saya terpanggil untuk melanjutkan usaha walaupun sudah bekerja sekitar 2,5 tahun di salah satu bank swasta di Jakarta," ujar Angga.

Untuk keluar dari kesulitan ini, Angga sebagai pengelola generasi ketiga melakukan pengembangan usaha dengan membuka angkutan pariwisata yang bernama Vircansa Tour Bus yang beroperasi di Sumatra Barat dan sekitarnya.

Awal 2020 lalu, PO NPM bekerja sama dengan PO Haryanto dan PO Sumber Alam memfasilitasi penumpang yang akan menuju ke Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur melalui tiket terusan. Penumpang PO NPM dari pulau Sumatra yang bertujuan ke Jawa Tengah bagian utara dan Jawa Timur nantinya akan dioper ke bus PO Haryanto, sedangkan penumpang yang bertujuan ke Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan akan dioper ke PO Sumber Alam begitupula sebaliknya.

"Ini untuk mengurangi risiko di perjalanan. Yang lebih tahu medan jalan daerah yang dilalui adalah PO bus di daerah itu sendiri. Jadi kita PO antar daerah saling mendukung," katanya. 

Angga menambahkan, perusahaan otobus saat ini dituntut lebih baik dalam pelayanannya. Bus yang boleh beroperasi adalah yang layak jalan. Bagaimana penumpang yang sudah membayar tiket mendapatkan pelayanan dengan baik, keselamatan dan kenyamanannya terjamin.

"Untuk mewujudkan itu harus ada kerja sama tim. Tidak bisa one man show. PO bus ibarat empat kaki meja, yaitu BOD, karyawan, agen perwakilan, pengemudi dan kru. kalau salah satu timpang meja akan goncang," katanya.



Editor : Dani M Dahwilani

BERITA TERKAIT