Sementara itu, mobil listrik tidak memiliki proses pembakaran bahan bakar karena menggunakan baterai sebagai sumber energi. Dengan demikian, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi knalpot karbon monoksida seperti mobil bermesin pembakaran internal.
“Bahkan, beberapa produsen mobil listrik menyediakan fitur khusus, seperti Camp Mode dan Utility Mode. Tapi, yang namanya risiko pasti tetap ada,” ujarnya.
Meski tidak menghasilkan gas buang dari mesin, bukan berarti tidur di dalam mobil listrik dengan AC menyala bisa dilakukan tanpa memperhatikan kondisi kabin. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas udara dan sirkulasi di dalam kendaraan.
"Walaupun mobil listrik enggak menghasilkan karbon monoksida, kita sendiri yang menghasilkan karbon dioksida dari napas. Kalau udara di kabin terus-terusan cuma diputar menggunakan mode recirculation dengan sedikit udara masuk, karbon dioksida bisa menumpuk," katanya.
Penumpukan karbon dioksida (CO2) di dalam kabin dapat memengaruhi kualitas udara. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa lebih mengantuk, cepat lelah, hingga mengalami penurunan konsentrasi.