Perusahaan menilai masih terlalu dini untuk menilai seberapa besar dampak konflik tersebut. Toyota masih memantau apakah ketegangan tersebut akan berlangsung dalam jangka pendek atau justru berkepanjangan.
Jika konflik berlanjut dan memicu gangguan yang lebih luas, Toyota memastikan akan menyiapkan langkah antisipasi agar bisnis tetap berjalan stabil.
“Kalau terjadi dampaknya, pasti kita akan mengantisipasi dengan strategi yang dibutuhkan,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai konflik geopolitik di Timur Tengah dapat memengaruhi rantai pasok global, jalur logistik, hingga distribusi komponen industri otomotif. Gangguan pada jalur perdagangan internasional bahkan bisa memicu keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya logistik.
Sebab itu, banyak produsen otomotif global termasuk Toyota memilih bersikap hati-hati sambil memantau perkembangan konflik tersebut.
Bagi Toyota Indonesia sendiri, kondisi geopolitik global menjadi salah satu faktor yang selalu diperhatikan karena industri otomotif sangat bergantung pada rantai pasok internasional dan stabilitas ekonomi dunia.