Bahkan, warga yang pergi ke sekolah, bekerja atau berladang tetap beraktivitas seperti biasa. Jadi kawasan Sumber Klakah tidak terjadi hujan abu dan arah angin ke utara, sedangkan Klakah di bagian barat gunung.
Kades Jrakah Kecamatan Selo Tumar mengatakan, erupsi Gunung Merapi terlihat dari desanya saat mengeluarkan abu seperti kilat-kilat kemudian disusul asap tebal membumbung tinggi keluar dari puncak.
“Alhamdulilah Desa Jrakah tidak terjadi hujan abu dan masyarakat juga melakukan aktivitas seperti biasa. Warga tetap waspada meski mereka bekerja di ladang,” ucapnya.
Hasil pantauan di Boyolali Kota, justru terjadi hujan abu tipis, tetapi kemudian tertutup adanya air hujan gerimis yang turun di wilayah tersebut sehingga warga tidak merasakan dampaknya. Hujan abu juga terjadi di wilayah Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali atau bagian sisi utara Merapi.
Menurut Yuli warga Jalan Merbabu Boyolali, dampak erupsi Merapi Boyolali Kota terjadi hujan abu tipis, tetapi hilang begitu saja akibat adanya gerimis. Warga setempat pun tidak begitu merasakan dampak erupsi..
Melalui akun resminya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) di Yogyakarta menyebutkan Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Provinisi Jateng dan DI Yogyakarta erupsi pada Selasa pagi pukul 05.22 WIB.
Erupsi tercatat dengan amplitudo 75 mm dan durasi 450 detik dengan ketinggian kolom mencapai 6.000 meter dari puncak. Asap panas guguran terpantau ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak sekitar 2 Km. Status Gunung Merapi tetap waspada sejak 21 Mei 2018.