MAGELANG, iNews.id – Pengaitan ajaran kekerasan kepada Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin Desa Kricing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah menyusul aksi penyerangan terhadap gereja di Sleman yang dilakukan mantan santri membuat gerah pengurus ponpes tersebut.
Pengurus ponpes berpaham ahlussunnah wal jamaah itu menolak keras tuduhan mengajarkan paham radikalisme kepada para santri.
Pengasuh Ponpes Sirojul Mukhlasin, Ustaz Abdul Hamid mengaku prihatin dan mengutuk keras aksi penyerangan terhadap rumah ibadah dan umat beragama. Hamid pun membantah keras jika ponpes yang diasuhnya mengajarkan kekerasan dan radikalisme.
“Kami merasa dirugikan lantaran dikait-kaitkan dengan tragedi tersebut. Kami pun mengutuk keras aksi tersebut,” kata Abdul Hamid, Kamis (15/2/2018).
Menurut Abdul Hamid, sejak Ponpes Sirojul Mukhlasin didirikan 102 tahun lalu, tidak pernah mengajarkan kekerasan atupun radikalisme kepada para santri. Justru, kata dia, pesantrennya memiliki pandangan Islam yang rahmatn lil alamin.