Tradisi Kawin Ampyang, Pembauran Etnis Jawa dan Tionghoa di Kampung Pecinan Solo

Bramantyo
Sejumlah pengunjung menikmati suasana malam tahun baru Imlek di kawasan Pasar Gede Solo. (foto: ilustrasi/Dok Ahmad Antoni)

Hampir semua warga melakukan kawin ampyang dan bukan suatu hal aneh lagi. Istilah kawin ampyang ini, lanjut Sumartono diibaratkan ampyang yang terbuat dari gula merah dan kacang tanah.

Filosofinya gula mentah adalah masyarakat Jawa dan kacangnya diibaratkan warga Tionghoa "Itu sudah  biasa. Sudah ada sejak dulu, dan sampai sekarang tidak ada masalah," ujar Sumartono.

Menurut dia, dalam pernikahan itu kunci utamanya adalah cinta. Orang menikah pastinya ada sesuatu yang mendukung untuk hidup bersama.

"Pasangan akan saling mengisi dengan segala perbedaannya. Ya ibaratnya campuran gula dan kacang menghasilkan rasa yang gurih dan manis, sama keberagaman. Perbedaan rasa itu indah jika kita bisa menyikapinya dengan benar,” ujarnya.

Seperti pernikahan antar etnis di Balong yang akhirnya melahirkan generasi baru yang sudah berdarah campuran. Maka tak heran di kawasan kampung Balong  kebanyakan sudah berdarah campuran. Berkulit kuning coklat dan bermata sipit.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
2 hari lalu

Viral Mobil Listrik Diduga Halangi Ambulans Bawa Pasien Kritis di Solo, Pengemudi Ditilang

14 hari lalu

Massa ARIB Datangi Rumah Jokowi di Solo, Sempat Tegang dengan Relawan!

22 hari lalu

Kecelakaan Mobil Crane Diduga Rem Blong Tabrak 4 Motor di Solo, 6 Orang Luka-Luka

2 bulan lalu

Kecelakaan Kerja Lift Jatuh di Solo, 1 Pekerja Bengkel Tewas dan 1 Terluka

3 bulan lalu

Serunya Jelajah Pesona dan Ragam Budaya Kota Solo bersama Lorin Solo Hotel

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal