“Awalnya saya mau mundur, tapi karena disindir-sindir terus dan sakit hati, makanya saya ga mundur,” katanya.
Baginya, cara komunikasi perangkat desa dan pendamping PKH menyuruhnya mundur menyakitkan hati. Namun, dia mengaku jika sudah ada komunikasi yang baik dari perangkat desa maupun pendamping program PKH, Suma’ani berjanji akan mengundurkan diri dengan senang hati.
“Sekarang saya belum ada kemauan, karena masih sakit hati,” katanya.
Suami Suma’ani bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara mobil yang dia miliki sering disewakan kepada warga. Status rumah Suma’ani merupakan milik suami namun garasi mobil masih menumpang di tanah adik ipar.