"Namun, apabila hasil studi pemetaan tentang radikalisme di kalangan mahasiswa Unej itu dikatakan informasi hoaks, maka saya tidak terima dan akan meresponnya. Itu akan menjadi masalah karena ada perlawanan dari gerakan antiradikalisme di Universitas Jember," ujarnya.
Dosen FKIP Unej itu mengaku sangat menghormati Rektor Unej Moh Hasan atas keputusan itu dan pihaknya tidak dalam rangka melawan, namun lebih mencintai lembaga karena pihaknya sebagai "tukang bersih-bersih" paham radikalisme di Kampus Unej dan tidak punya kepentingan politik apa pun.
"Saya tidak tahu apakah pemberhentian saya sebagai Ketua LP3M Unej terkait dengan pemaparan hasil penelitian tentang radikalisme itu, karena Rektor Unej tidak pernah menyampaikan hal itu," ucapnya.
Kepala Humas Unej Agung Purwanto mengatakan pemberhentian Dr Akhmad Taufiq sebagai Ketua LP3M Unej hanya masalah dinamika organisasi dan hal tersebut merupakan kewenangan Rektor Unej Moh Hasan.
"Pernyataan Ketua LP3M Unej yang menyebutkan 22 persen mahasiswa Unej terpapar radikalisme sangat berdampak pada lembaga kampus, sehingga kami perlu menyampaikan penjelasan secara detail tentang hal tersebut dan penanganan yang sudah dilakukan pihak Unej," ujarnya.