Itulah mengapa nama Rubini cukup melekat di hati masyarakat pedesaan di luar Pontianak, yang kini berada di sekitar wilayah Kubu Raya dan Mempawah.
Usaha Rubini itu dibantu istrinya, Amalia Rubini yang tergabung dalam gerakan Palang Merah. Amalia Rubini juga berinteraksi dengan perkumpulan istri dokter di Pontianak untuk berbagi informasi dan keterampilan seputar pemberdayaan perempuan dan anak.
Kebetulan istri dokter Agusjam, yakni RA Sujarah adalah ketua organisasi Aisiyah yang mengelola sejumlah sekolah di Pontianak, seperti Taman Kanak-Kanak, pengajian perempuan, dan kursus-kursus keterampilan.
Menjelang kedatangan tentara Jepang di Kalimantan karena berkobar Perang Pasifik pada 1941, pemerintah kolonial mengadakan evakuasi terhadap pejabat-pejabat Belanda ke Jawa.
Tokoh-tokoh masyarakat pribumi seperti Rubini turut diajak. Namun Rubini menolak karena kecintaannya kepada Kalbar dan pengabdian untuk masyarakat.