Pasangan tersebut menjadikan kegagalan di Asian Games Hangzhou sebagai bahan evaluasi. Mereka bertekad tampil lebih berani dan tidak mengulangi kesalahan yang sama saat bertanding di Jepang.
"Kegagalan di Asian Games Hangzhou kami jadikan pelajaran dan pengalaman. Kami harus perbaiki kesalahan, jangan diulangi lagi. Di Nagoya nanti kami harus tampil lebih berani," kata Leo.
Kepercayaan diri Leo/Daniel juga meningkat setelah mereka membuat kejutan dengan mengalahkan pasangan ganda putra nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, pada babak pertama China Masters beberapa waktu lalu.
Namun, mereka sadar tantangan di Asian Games 2026 tidak hanya datang dari satu pasangan. Persaingan sektor ganda putra tetap ketat sehingga setiap pertandingan harus dipersiapkan dengan serius.
Selain kesiapan teknis, tim bulutangkis Indonesia juga mendapat keuntungan dari kondisi cuaca di Jepang. Imam Tohari menilai suhu Tokyo dan Nagoya yang berada di kisaran 25 derajat Celsius cukup ideal bagi atlet Indonesia.
"Dengan cuaca di Tokyo dan nanti di Nagoya yang tidak terlalu terik dan juga tidak terlalu dingin. Dengan kisaran suhu 25 derajat Celsius itu cocok dengan atlet-atlet kita jadi seharusnya secara adaptasi tidak akan menjadi masalah besar," ujar Imam.
Dengan persiapan yang semakin matang, tim bulutangkis Indonesia berharap mampu tampil maksimal di Asian Games 2026. Perjalanan menuju podium juara dimulai dari adaptasi dan latihan keras di Jepang.