"Selain itu, kompetisi berkualitas di dalam negeri juga menjadi penentu," kata Pristiawan.
Nomor speed masih menjadi andalan Indonesia karena mampu mendominasi berbagai ajang multievent, mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. Konsistensi tersebut menjadikan nomor ini sebagai salah satu kekuatan utama panjat tebing nasional.
Namun, perkembangan Indonesia tidak hanya terlihat pada nomor speed. Nomor lead juga mulai menunjukkan kemampuan untuk bersaing dengan negara-negara yang selama ini dikenal sebagai kekuatan besar dunia.
Salah satu buktinya adalah pencapaian Putra Tri Ramadani alias Srondeng. Dia berhasil menempati peringkat kedua World Climbing Series 2026, sebuah hasil yang memperlihatkan perkembangan atlet Indonesia di nomor lead.
Dengan tidak adanya panjat tebing dalam SEA Games 2027, Indonesia kehilangan lebih dari sekadar kesempatan menambah koleksi medali emas. Atlet-atlet muda juga kehilangan salah satu tahapan penting untuk mendapatkan pengalaman bertanding sebelum menghadapi persaingan di Asian Games dan Olimpiade.
Pristiawan menegaskan dampak keputusan tersebut terhadap peluang Indonesia dalam perolehan medali. Dia menilai absennya panjat tebing otomatis mengurangi kesempatan kontingen Merah Putih untuk meraih emas.
"Ini bukan soal untung rugi bagi panjat tebing. Yang pasti perolehan medali Indonesia akan berkurang tanpa cabor panjat tebing di Seagames 2027," kata Pristiawan.