“Kesepakatan ini jelas tidak sesuai dengan prinsip perlindungan hak audiovisual sepak bola,” tulis Tebas dalam suratnya.
Keberatan LaLiga berkaitan dengan sejumlah perkara hukum di Prancis yang melibatkan penyedia layanan VPN. Pada Mei 2025, Pengadilan Negeri Paris memerintahkan ExpressVPN dan empat perusahaan VPN lain memblokir akses menuju 203 domain yang menayangkan kompetisi olahraga secara ilegal.
Domain-domain tersebut digunakan untuk menyiarkan Liga Champions, Liga Inggris, dan kompetisi rugbi Top 14 tanpa izin. Canal+ memegang hak siar eksklusif untuk ketiga kompetisi tersebut di wilayah Prancis.
Tebas menilai kerja sama FIFA dapat memberikan kesan legitimasi kepada perusahaan yang sedang terlibat sengketa hukum dengan pemegang hak siar. LaLiga, beIN Sports Prancis, Canal+, dan organisasi olahraga lainnya sebelumnya mengambil langkah hukum terhadap ExpressVPN di sejumlah yurisdiksi.
“FIFA menjalin kemitraan dengan perusahaan yang layanannya memfasilitasi pembajakan konten olahraga. Ini mengirimkan pesan yang merusak kepada ekosistem sepak bola,” tulis Tebas dalam keterangannya.