"Kalau dibandingkan Malaysia, satu jam pekerja kita di Indonesia menghasilkan 13–15 dolar AS. Malaysia sudah 26–27 dolar AS," ujar Yunus.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak cukup hanya melalui pendidikan dan pelatihan konvensional. Kompetensi harus berujung pada kemampuan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas.
Di sinilah AI dapat menjadi salah satu instrumen penting.
Jika dimanfaatkan dengan tepat, AI dapat membantu pekerja mengurangi pekerjaan repetitif, mempercepat pengolahan informasi, meningkatkan efisiensi, sekaligus memberi lebih banyak waktu bagi manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, komunikasi, strategi, dan pengambilan keputusan.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena sebuah perusahaan telah menggunakan AI.
Perusahaan tetap membutuhkan SDM yang memahami kapan AI harus digunakan, bagaimana mengawasi hasilnya, serta kapan keputusan harus tetap berada di tangan manusia.