Tak hanya soal uang, tekanan psikologis juga dirasakan korban. Said mengungkapkan, saat ada peserta yang mengeluh atau berniat keluar dari program, muncul intimidasi berupa serangan buzzer di media sosial hingga ancaman doxing.
“Buzzer-buzzernya tuh nge-DM, WA, terus di komen ya dikata-katain. Goblok, ngapain all in, fomo, segala macam. Pantesan rungkad,” kata Said.
Korban juga mempertanyakan klaim tingkat keberhasilan hingga 90 persen yang disebut tidak sesuai realitas. Mereka menduga adanya praktik tidak etis, termasuk indikasi mentor menjual aset saat member diarahkan membeli.
Pakar keuangan Gema Goeyardi menegaskan, pihak yang memberikan rekomendasi investasi berisiko tinggi seharusnya memiliki sertifikasi dan izin resmi sebagai penasihat keuangan. Menurutnya, praktik yang terjadi tidak lagi sebatas edukasi, melainkan berpotensi menyesatkan publik.
Gema juga menyoroti narasi yang meremehkan gelar akademik dan profesional, seperti Profesor atau CFA. Sikap tersebut dinilai berbahaya karena dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap literasi keuangan dan investasi yang sehat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Timothy Ronald terkait tudingan para korban. Kasus ini pun menjadi sorotan publik di tengah maraknya fenomena kelas investasi berbayar dan influencer kripto di media sosial.