USGS juga mencatat bahwa partikel abu vulkanik berukuran kurang dari 10 mikrometer dapat terhirup lebih dalam ke paru-paru. Karena itu, anak-anak dan orang dengan penyakit pernapasan, termasuk asma, menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC) menyebut paparan abu vulkanik dapat menyebabkan masalah kesehatan. Partikelnya bersifat kasar dan abrasif, sementara sebagian abu dapat mengandung silika kristalin yang diketahui berkaitan dengan penyakit silikosis pada paparan tertentu.
Ada satu hal yang juga perlu dibedakan.
Ketika gunung api erupsi, masyarakat tidak hanya berhadapan dengan abu. Gunung api juga dapat mengeluarkan berbagai gas vulkanik.
USGS menyebut gas vulkanik yang umum antara lain uap air, karbon dioksida dan sulfur dioksida. Dalam kondisi tertentu, gas lain seperti hidrogen sulfida, hidrogen klorida, karbon monoksida dan hidrogen fluorida juga dapat muncul, dengan jumlah yang berbeda-beda pada setiap erupsi.
Artinya, udara di sekitar wilayah terdampak erupsi dapat mengandung campuran partikel abu dan gas vulkanik, sehingga dampaknya tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi ketika debu jalanan beterbangan.