Agak sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya jatuh di galaksi kerdil yang disebut PHL 293B, yang jauhnya sekitar 75 juta tahun cahaya. Pada jarak itu, melihat bintang individual tidak mungkin karena tidak punya teknologinya.
Namun, ada jenis bintang yang disebut variabel luminous blue yang memiliki ciri khas cahaya yang bisa dikenali. Bintang-bintang ini sangat besar, dalam skala supergiant atau hypergiant, dan pada akhir kehidupan mereka.
Dengan demikian, bintang-bintang itu sangat terang dan tidak stabil. Cahayanya dapat bervariasi secara dramatis dalam kecerahan dan spektrum saat mereka mengalami ledakan dan letusan.
Dalam pengamatan awal galaksi kerdil, tanda ini hadir, menunjukkan bintang antara 2,5 hinga 3,5 juta kali setara Matahari. Jadi, saat tim memutar keempat teleskop opstikal European Southern Observatory's Very Large Telescope menuju PHL 293B pada Agustus 2019, tidak ada yang mengejutkan.
"Akan sangat luar biasa bagi bintang sebesar ini menghilang tanpa menghasilkan ledakan supernava yang cerah," kata Allan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, mulai muncul bukti bintang-bintang memang dapat runtuh secara langsung ke dalam black hole tanpa mengalami ledakan supernova. Pada 2017, sebuah paper yang diterbitkan tentang fenomena serupa di galaksi membuat para astronot berhipotesa, bintang tersebut telah mengalami supernova yang gagal sebelum runtuh.
Berdasarkan pengamatan mereka, tim percaya bintang di PHL 293B berada dalam kondisi erupsi antara 2001 dan 2011. Dari titik ini, ada dua kemungkinan utama.