Fenomena Langit yang Layak Ditunggu di 202 (Foto: Unsplash)
Intan Rakhmayanti Dewi

JAKARTA, iNews.id - Sejumlah fenomena langit akan terjadi di 2022. Setidaknya, ada sembilan fenomena astronomi yang layak ditunggu para pengamat langit selama 2022. 

Menurut catatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ada 9 fenomena menarik yang layak ditunggu. Fenomenanya beragam, mulai dari hujan meteor, konjungsi planet, okultasi, bulan purnama super, hingga gerhana bulan total.

Bagi para pencinta astronomi jangan sampai terlewat, fenomena langit di 2022 ini. Catat ya!

1. Puncak Hujan Meteor Quadrantid
Berdasarkan unggahan Instagram LAPAN, pada 4 Januari mendatang, akan terjadi puncak hujan meteor Quadrantid. Hujan meteor Quadrantid adalah hujan meteor yang titik radiannya berasal dari konstelasi Quadrans Muralis (kini menjadi bagian dari konstelasi Bootes), dengan intensitas maksimum hujan meteor sebesar 200 meteor per jam.

2. Puncak Konjungsi Mars-Saturnus
Pada awal Ramadhan 1443 Hijriah mendatang masyarakat Indonesia disambut dengan pemandangan konjungsi Mars-Saturnus, tepatnya pada 5 April 2022.

Masyarakat bisa menyaksikan puncak konjungsi Mars-Saturnus saat sahur pukul 03.00 waktu setempat hingga 25 menit sebelum matahari terbit.

3. Konjungsi Kuintet Saturnus-Mars-Venus-Jupiter-Bulan
Melansir laman LAPAN, pada 24-29 April 2022 akan terjadi fenomena astronomis Konjungsi Kuintet, yaitu penampakan 5 benda langit sekaligus yang tampak segaris, meliputi Saturnus, Mars, Venus, Jupiter, dan Bulan.

Untuk menyaksikannya, pada 24-28 April 2022 konjungsi dimulai pada pukul 04.00 waktu setempat, dilihat dari arah timur memanjang hingga tenggara. Lalu pada 29 April 2022, peristiwa astronomi ini baru dapat disaksikan sejak awal fajar astronomis atau 75 menit sebelum Matahari terbit.

4. Puncak Konjungsi Venus-Jupiter
Menjelang Idul Fitri 1443 Hijriah juga akan ada fenomena langit, yakni konjungsi Venus dan Jupiter dengan sudut pisah 14 menit busur. Fenomena ini dapat disaksikan pada arah timur pukul 03.30 waktu setempat hingga 25 menit sebelum Matahari terbit.

5. Okultasi Venus oleh Bulan
Pada 27 Mei menatang, Bulan akan sedikit terhalang oleh Venus. Fenomena inilah yang disebut Okultasi Venus. Saat fenomena ini terhadi, Bulan sedang di fase Sabit Akhir dengan iluminasi 10,3-10,6 persen.

Di Indonesia, daerah yang bisa menyaksikan okultasi ini, antara lain Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian provinsi Papua Barat.  Adapun waktunya pagi hari setelah matahari terbit hingga siang hari, sehingga hanya bisa disaksikan menggunakan alat bantu.

6. Bulan Purnama Super
Bulan Purnama Super atau Bulan Purnama Perige merupakan fase Bulan purnama yang terjadi beriringan saat Bulan berada di titik terdekatnya dari Bumi atau disebut Perige.

Bulan akan terlihat lebih besar daripada biasanya pada 14 Juni 2022. Puncak Bulan Purnama Super pertama terjadi pukul 18.51 WIB, 19.51 Wita, dan 20.51 WIT. Jaraknya 357.658 km dari bumi.

Kemudian puncak yang kedua terjadi pada 14 Juli 2022 pukul 01.37 WIB, 02.37 Wita, dan 03.37 WIT dengan jarak 357.416 km.

7. Puncak Hujan Meteor Perseid
Pada pertengahan tahun ini akan ada hujan meteor Perseid, tepatnya 13-14 Agustus 2022. Perseid merupakan hujan meteor yang titik radiannya berasal dari konstelasi Perseus.

Intensitas maksimum hujan meteor ini sebesar 100 meteor per jam. Perseid dapat disaksikan hingga 25 menit sebelum Matahari terbit saat titik radiannya berkulminasi di arah utara.

8. Gerhana Bulan Total
Gerhana Bulan Total adalah fenomena astronomis ketika seluruh permukaan Bulan memasuki bayangan inti (umbra) Bumi. Gerhana Bulan Total kali ini akan terjadi pada 8 November 2022 dengan durasi total selaa 1 jam 24 menit 58 detik dan durati umbra (Sebagian total) selama 3 jam 39 menit 50 detk.

9. Puncak Hujan Meteor Geminid
Geminid adalah hujan meteor yang titik radiantnya berasal dari konstelasi Gemini. Intensitas maksimum hujan metor ini sebesar 120 meteor/jam.

Geminid dapat disaksikan pada 14-15 Desember 2022 dari arah Timur Laut hingga Barat Laut sejak pukul 20.30 waktu setempat hingga 25 menit sebelum Matahari terbit. 


Editor : Dini Listiyani

BERITA TERKAIT