"Dari layout, estetika, luas area, atau budget bukan dari business objectives, ways of working, kebutuhan user, dan kebutuhan organisasi ke depan," kata Fayruzka dalam Designed for Life (DFL) Conference 2026 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, belum lama ini.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tren desain kantor tidak seharusnya menjadi satu-satunya acuan perusahaan. Sebelum menentukan konsep interior, perusahaan perlu memahami bagaimana karyawan bekerja dan aktivitas apa saja yang perlu difasilitasi.
Bayangkan bekerja di kantor dengan interior minimalis, sofa nyaman, tanaman hias, dan ruang terbuka yang terlihat menarik. Sekilas, suasananya memang menyenangkan.
Namun, bagaimana jika ruang tersebut terlalu bising untuk karyawan yang membutuhkan konsentrasi? Atau, bagaimana jika tim kesulitan berdiskusi karena tidak tersedia ruang yang memadai untuk bekerja bersama?
Situasi tersebut menunjukkan bahwa estetika perlu berjalan beriringan dengan fungsi. Ruang kerja yang baik perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kebutuhan konsentrasi, pola komunikasi, dan aktivitas penggunanya.