Namun, mengikuti tren belum tentu menjadi solusi jika konsep tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan karyawan. Kantor yang dirancang untuk mendukung kolaborasi, misalnya, tetap perlu mempertimbangkan aktivitas yang membutuhkan ketenangan dan konsentrasi.
Fayruzka menekankan pentingnya mempertimbangkan business objectives, cara kerja, serta kebutuhan pengguna dan organisasi sejak awal proses perencanaan workspace.
Dengan pendekatan tersebut, keputusan mengenai tata letak, luas ruang, dan anggaran tidak berdiri sendiri. Seluruh elemen perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan kebutuhan orang-orang yang menggunakan ruang tersebut.
Hal ini juga membuat evaluasi kantor sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah desainnya menarik atau fasilitasnya lengkap. Perusahaan perlu melihat apakah ruang kerja benar-benar mendukung aktivitas sehari-hari.
President Director VIVERE, William Simiadi, menilai pembahasan mengenai workspace perlu melibatkan berbagai perspektif agar kebutuhan dan persoalan dalam industri dapat dipahami secara lebih menyeluruh.