Situasi tersebut dapat mendorong kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Jika berlangsung terus-menerus, pengguna bisa merasa kehidupannya tidak sebaik apa yang dilihat di media sosial.
Selain itu, muncul pula FOMO (fear of missing out) atau rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan atau dibicarakan orang lain.
“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan FOMO (fear of missing out),” kata dr. Adam.
Untuk mengurangi dampak tersebut, pengguna dapat mencoba mengambil jeda dari media sosial atau melakukan 'social media detox'.
Dr. Adam menjelaskan, durasi detoks yang optimal berbeda-beda berdasarkan penelitian. Namun, sebagian penelitian menyebut periode satu hingga dua minggu.