Pengujian juga menunjukkan adanya perbedaan efek antara sel kanker dan sel normal yang digunakan sebagai pembanding. Sel normal tertentu mengalami dampak yang lebih rendah dibandingkan sel kanker dalam kondisi eksperimen tersebut.
Hasil ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan karbon monoksida sebagai pemicu reaksi kimia berpotensi membantu menghasilkan senyawa antikanker secara lebih selektif.
Meski demikian, hasil pengujian di laboratorium tidak otomatis menggambarkan respons yang sama pada tubuh manusia. Efektivitas dan keamanan metode tersebut masih harus dibuktikan melalui penelitian lanjutan.
Salah satu harapan dari pendekatan ini adalah mengurangi dampak pengobatan terhadap sel sehat dengan menghasilkan senyawa antikanker di dalam sel yang menjadi sasaran.
Namun, metode tersebut belum dapat disebut sebagai pengganti kemoterapi. Peneliti masih perlu menguji bagaimana sistem ini bekerja di dalam tubuh, apakah katalis dan senyawa yang dihasilkan aman, serta apakah efek antikankernya cukup kuat untuk menghambat pertumbuhan tumor.