Jawabannya adalah partikel di udara masih dapat ditemukan, tetapi perlu dibedakan antara keberadaan partikulat dengan kepastian bahwa seluruh partikulat tersebut merupakan abu Anak Krakatau.
Data Kemenkes pada 8-9 September menunjukkan PM2,5 masih berada di atas batas aman di sejumlah titik. Sementara BMKG sebelumnya masih mendeteksi sebaran abu vulkanik melalui pengamatan satelit.
Karena itu, masyarakat tidak perlu menunggu sampai melihat debu beterbangan untuk mulai berhati-hati.
Jika berada di wilayah yang sebelumnya terdampak abu, penggunaan masker saat berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara buruk, serta melindungi mata dapat menjadi langkah pencegahan.
Sepekan setelah erupsi besar Anak Krakatau, langit yang terlihat bersih bukan satu-satunya indikator kualitas udara. Partikel berukuran sangat kecil justru membutuhkan alat khusus untuk mendeteksinya.