"Kalau ada perubahan epidemiologi, rekomendasi vaksin bisa langsung direvisi. Sistemnya dinamis, tidak kaku," tegas dr. Sukamto.
"Dan dari sisi produsen vaksin, kami pun siap dengan perubahan tersebut. Kalau memang ada strain baru, ya, kami perbaiki demi menjaga kesehatan masyarakat," ungkap Vidi Agiorno selaku Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma.
Meskipun sudah tidak ada di alam, para ilmuwan mengingatkan bahwa virus Yamagata masih tersimpan di berbagai laboratorium penelitian. Selain itu, penggunaan vaksin flu jenis Live Attenuated Influenza Vaccine (LAIV) yang masih mengandung virus hidup yang dilemahkan di beberapa wilayah dunia juga terus diawasi ketat agar tidak memicu reintroduksi virus ke lingkungan.
Punahnya virus Yamagata menjadi bukti nyata bahwa intervensi kesehatan masyarakat yang terintegrasi dapat mengubah sejarah evolusi patogen secara permanen. Dunia kini memasuki era baru perlindungan influenza yang lebih efisien dan tepat sasaran.