Pesan inilah yang kemudian dihadirkan dalam resepsi pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. Terlebih, kedua mempelai memiliki perjalanan cinta yang tidak singkat.
Mereka pertama kali bertemu pada 2015. Setelah sempat terpisah selama bertahun-tahun dan menjalani kehidupan masing-masing, keduanya kembali dipertemukan pada awal 2025 hingga akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan.
Namun, Langendriyan bukan sekadar kesenian yang dipilih karena cerita di dalamnya. Pertunjukan ini juga merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki sejarah panjang di lingkungan Pura Mangkunegaran.
Mengutip laman resmi Mangkunegaran, Langendriyan berasal dari kata langen yang berarti hiburan dan driya yang berarti hati. Secara harfiah, Langendriyan dapat dimaknai sebagai hiburan hati atau tarian hati.
Bentuk keseniannya berupa drama tari yang memadukan gerak, tembang, dan iringan gamelan. Keunikan utamanya terletak pada dialog para tokoh yang tidak disampaikan melalui percakapan biasa, melainkan dinyanyikan menggunakan tembang macapat.