Dengan demikian, cerita dalam Langendriyan dibangun melalui perpaduan suara, gerakan tubuh, ekspresi, dan irama musik. Para penari tidak hanya dituntut menguasai gerak tari, tetapi juga kemampuan melantunkan tembang sambil memerankan tokoh dalam cerita.
Sejarah Langendriyan Mangkunegaran juga memiliki perjalanan tersendiri. Kesenian ini awalnya berkembang di Yogyakarta, sebelum kemudian tumbuh menjadi salah satu identitas seni pertunjukan di Pura Mangkunegaran.
Dalam perkembangannya, Langendriyan Mangkunegaran lahir pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV (1853-1881). Berdasarkan catatan sejarah Mangkunegaran, kemunculannya berkaitan dengan permintaan seorang Belanda bernama Godlieb Kilian kepada Raden Mas Hario Tondrokusuma untuk menyusun pertunjukan tari dengan cerita Damarwulan, khususnya bagian ketika Ratu Ayu dilamar Adipati Minakjinggo.
Kesenian tersebut kemudian berkembang dengan ciri khas tersendiri di lingkungan Mangkunegaran.
Perjalanan Langendriyan tidak selalu berjalan mulus. Penelitian sejarah dari Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat bahwa kesenian ini mengalami berbagai perubahan dari masa ke masa.