Eyang Karso yang juga punya nama panggilan Jukut ini memutuskan pergi merantau ke daerah Solo untuk menyambung hidup usai menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal dunia. Sempat menggeluti berbagai profesi. Singkat cerita, Eyang Karso bertemu dengan sosok Mbah Wiryo hingga akhirnya keduanya merintis usaha makanan yang menjadi cikal bakal angkringan saat ini.
Awalnya, keduanya menjual terikan, yang merupakan makanan khas dari Jawa Tengah yang terbuat dari bahan dasar aneka protein dan dimasak dengan kuah kental. Mereka menjual makanan ini di malam hari karena pada masa itu belum banyak yang berjualan makanan saat malam hari.
Selama berjualan, Eyang Karso dan Mbah Wiryo perlahan menambah menu makanan dan minuman yang disajikan. Keduanya lantas mendapat ide menjajakan minuman seperti wedang jahe, teh manis panas, kopi panas, hingga aneka minuman kesehatan tradisional lain yang bisa dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh di malam hari.
Setelah itu, mereka pun mendapatkan ide untuk menambah menu jajanan atau camilan, seperti pisang rebus, ubi goreng, dan lain sebagainya yang disebut ‘Hidangan Istimewa Kampung’. Itulah alasan mengapa angkringan juga akrab dengan penyebutan HIK.
Dipikul sebelum berubah jadi gerobak dorong
Sebelum terkenal dengan gerobak dorong seperti saat ini, ternyata angkringan dulu dijual dengan gerobak pikul. Nama Angkringan berasal dari Bahasa Jawa ‘Angkring’ yang berarti alat dan tempat jualan makanan keliling. Dahulu Eyang Karso dan Mbah Wiryo menjajakan makanan mereka dengan angkring.