Dr Erna menambahkan, sayangnya, konsumsi protein hewani di Indonesia masih rendah. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021 konsumsi protein hewani hanya 21,5 gr per kapita per hari. Artinya hanya sekitar 1/3 dari konsumsi protein keseluruhan yang mencapai 62,28 gr per kapita per hari.
"Rendahnya konsumsi protein di Indonesia, antara lain disebabkan oleh akses untuk mendapatkan protein hewani yang masih rendah pada sebagian besar masyarakat dan juga kurangnya ketelatenan orang tua dalam memberi makan anak-anaknya," kata dr Erna.
Dalam rangka Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara, Prof. Fika mengingatkan, selain sebagai sumber protein, kandungan gizi pada susu sangat lengkap, mulai dari sumber energi, lemak, aneka vitamin dan mineral.
Menurut Prof. Fika, peran susu dalam mencegah kekurangan gizi sebenarnya sangat panjang. Susu ASI diperlukan sejak bayi baru lahir, lanjut masa anak-anak, dewasa, hingga lansia dengan melanjutkan konsumsi susu sesuai tahap usia dan kebutuhan masing-masing tubuh.
"Untuk bayi (melalui ASI), anak-anak, dan remaja, susu diperlukan untuk pertumbuhan karena kandungan gizinya. Pada saat dewasa, kandungan kalsium yang tinggi pada susu dapat mencegah osteoporosis, susu juga mendukung daya tahan tubuh," kata Prof Fika.