Nama babanci diambil dari sayur ini yang tidak jelas jenisnya karena tidak tergolong sebagai gulai, kare, maupun soto. Beberapa orang juga meyakini nama babanci diambil dari perpaduan antara babah dan enci yang disinyalir makanan ini dulunya dibuat oleh para peranakan Betawi-Tionghoa. Salah satu keunikan Sayur babanci adalah diperlukannya 21 jenis bahan, bumbu, dan rempah. Beberapa rempah sudah termasuk langka, seperti, kedaung, botor, tai angin, lempuyang, temu mangga, temu kunci, hingga bangle. Bahan utama hidangan ini ada kepala sapi.
3. Alia Bagente
Makanan khas Betawi yang hampir punah berikutnya adalah Alia Bagente. Ini adalah kudapan ringan yang merupakan akulturasi budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa. Hidangan ringan ini banyak muncul di bulan Ramadan. Bahan utama makanan ini adalah kerak nasi yang tersisa di dandang.
Kemudian, kerak nasi dikeringkan dan digoreng. Untuk menikmati Alia Bagente, disiram dengan kinca atau gula merah. Teksturnya renyah mirip kerupuk.
4. Jalabia
Makanan khas Betawi yang hampir punah selanjutnya ada Jalabia. Makanan ini dibuat dari tepung ketan. Kemudian diberi gula dan digoreng. Jalabia berbentuk seperti donat yang bolong di tengahnya. Rasanya manis. Seluruh permukaannya dilumuri gula merah yang dibiarkan mengering seperti kue gemblong. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jajanan ini adalah di antaranya tepung ketan hitam, kelapa parut, garam, air dan gula merah.
5. Kue Abuk
Makanan khas Betawi yang hampir punah terakhir adalah kue abuk. Kue ini terbuat dari tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Serupa dengan ciri khas kue tradisional nusantara pada umumnya, kue abuk dikukus dalam bungkusan berbentuk kerucut dari daun pisang. Kue abuk memiliki kemiripan dengan kue putu. Rasanya manis dan gurih.
Kue ini menjadi sajian istimewa di sepertiga Ramadan, yang dalam masyarakat Betawi dikenal sebagai tradisi malam ketupat. Tradisi ini berlangsung pada malam-malam ganjil setelah 17 Ramadan, dan dilakukan secara bergilir di setiap musala pada tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Malam-malam ganjil tersebut dikenal sebagai malam likuran. Masyarakat Betawi yang lekat dengan ajaran Islam meyakini pada malam-malam itulah saat turunnya lailatul qodar.
Pada tradisi malam ketupat ini warga menyiapkan kue abuk untuk dibawa ke masjid atau musala. Itu sebabnya tradisi malam ketupat disebut juga sedekah abuk, karena dahulu penganan yang tersedia dan populer adalah kue abuk. Kue dibuat sendiri oleh warga dan dihidangkan saat masyarakat berkumpul di musala.