Anggota Komisi VII DPR Usir Dirut Inalum di Tengah Rapat, Ini Kronologinya

Okezone ยท Selasa, 30 Juni 2020 - 20:50 WIB
Anggota Komisi VII DPR Usir Dirut Inalum di Tengah Rapat, Ini Kronologinya

Direktur Utama PT Inalum, Orias Petrus Moedak (tengah), Direktur Utama PT Timah Tbk Mochtar Riza (kanan) dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Clayton Allen Wenas (kiri) mengikuti RDP dengan Komisi VII DPR, Selasa (30/6/2020). (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - Perdebatan panas terjadi saat Komisi VII DPR menggelar rapat dengan pendapat (RDP) dengan lima BUMN tambang. Adu mulut mengemuka saat membahas isu surat utang (bond) induk BUMN tambang, PT Inalum (Persero) atau MIND ID.

Direktur Utama Inalum, Orias Petrus Moedak berseteru dengan Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Demokrat, Muhammad Nasir. Debat keduanya berujung pada pengusiran Orias.

Awalnya, Nasir meminta penjelasan dan data lebih detail mengenai strategi Inalum me-refinancing utang sebesar 2,1 miliar dolar AS. Refinancing berarti menarik utang baru untuk menutup utang-utang yang lama.

Orias menjelaskan, keputusan refinancing untuk membayar utang lama Inalum yang akan jatuh tempo. Selain itu, utang baru juga untuk membiayai akuisisi 20 persen saham Vale Indonesia.

Salah satu munculnya utang lama, kata Orias, karena Inalum membutuhkan dana waktu mengakuisisi PT Freeport Indonesia (PTFI). Sementara, Inalum baru akan mendapatkan dividen dari PTFI mulai tahun depan.

"Jadi waktu kami beli (PTFI) memang 2 tahun akan kosong penerimaan. Jadi akan balik (level produksi) di 2021. Level produksi di 2021 akan sama ekspektasinya seperti 2018, jadi harga tembaganya di 2018, kami ekspektasi dapat dividen 2021 itu 350 juta dolar AS dan akan meningkat bertahap dan ekspektasi akan menerima minimal 1 miliar dolar AS di 2023 dan seterusnya," di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (30/6/2020)

Dividen PTFI bersama dengan dividen-dividen dari tiga anak usaha lain akan memperkuat kas Inalum. Saat ini, Inalum memiliki saham pada empat anak usaha yaitu Bukit Asam, Antam, PT Timah, dan PTFI.

Jawaban Orias tak membuat Nasir puas. Nasir mengaku pusing dengan penjelasan Orias. Nasir tak sepakat dengan keputusan Inalum me-refinancing utang karena sama saja menggadaikan BUMN.

Orias menjawab, refinancing diperlukan karena Inalum butuh tambahan modal dan mengurangi beban karena suku bunga utang baru lebih rendah 0,7 persen daripada utang lama. Orias menepis kalau utang sama dengan menggadaikan BUMN karena penerbitan surat utang Inalum selama ini tak butuh jaminan.

"Jadi Pak, pinjaman yang 4 miliar dolar AS dan 2,5 miliar dolar AS enggak ada collateral-nya. Clean. Ini kami terbitkan global bond, ada 300 institusi yang partisipasi, seluruh dunia, karena ini di pasar modal, pembelinya bergerak setiap hari. Tapi yang pasti enggak ada collateral," tuturnya.

Nasir kemudian menanyakan bagaimana cara Inalum nanti melunasi utang di masa depan. Dia menilai, akuisisi PTFI tak bermanfaat karena tak memberikan pemasukan bagi Inalum.

"Kalau sumber dananya tidak memenuhi bagaimana cara bayarnya? Kalau tahun depan enggak bisa bayar bagaimana? Utang lagi Pak?," kata Nasir.

Orias menjawab, posisi kas Inalum saat ini mencapai Rp42 triliun. Selain itu, kata dia, Inalum akan memperoleh dividen dari anak-anak usaha. Dalam jangka panjang, Inalum cukup kuat.

Nasir kembali tak sepakat dengan pernyataan Orias.

"Saya sekarang bukan bagaimana selesaikan dengan cara utang? Bukan tambah buat masalah. Bapak kalau cuma ambil keuntungan dari tiga perusahaan ini, bangkrut ini. Digadaikan itu," ucapnya.

Kemudian, Nasir mengancam Orias untuk keluar dari ruang rapat karena tidak mampu menjawab pertanyaannya.

"Itu yang kami khawatirkan. Makanya kita minta data detilnya. Kalau Bapak sekali lagi begini, saya suruh Bapak keluar dari rapat," ucap Nasir.

Ancaman tersebut direspons oleh Orias. Wakil Presiden Komisaris PTFI itu bersedia menyudahi rapat apabila memang diizinkan.

"Kalau Bapak suruh saya keluar, ya saya izin keluar," kata Orias.

Mendengar jawaban Orias, Nasir menggebrak meja. Nasir menuding Orias tak serius saat rapat karena tidak menyediakan data lengkap.

"Bapak bagus keluar, enggak ada gunanya di sini. Anda bukan buat main-main di DPR. Anda bukan buat main-main di sini," ucap Nasir sambil menggebrak meja.

Orias pun kembali menjawab pernyataan dari Nasir. "Saya tidak main-main," kata Orias.

Nasir kemudian meminta pimpinan rapat Alex Noerdin untuk tidak mengundang lagi Orias dalam rapat DPR. Dia juga akan menyurati Menteri BUMN Erick Thohir agar Orias dicopot dari jabatannya.

"Anda itu enggak lengkap bahannya. Enak betul Anda di sini. Siapa yang naruh Anda di sini? Kurang ajar Anda di sini. Kalau Anda enggak senang, Anda keluar! Kau pikir punya saudara kau ini semua," ucap Nasir.

Editor : Rahmat Fiansyah