Kisah CEO Binance dari Karyawan McDonalds Jadi Miliarder Kripto Terkaya di Dunia
Zhao yang menjadi ahli di bidang pengkodean dipromosikan tiga kali dalam waktu kurang dari dua tahun untuk mengawasi tim di New Jersey, London, dan Tokyo saat usianya 27 tahun. Kemudian pada 2005, dia berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke Shanghai untuk meluncurkan Fusion Systems, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam mengembangkan beberapa sistem perdagangan frekuensi tinggi tercepat di dunia untuk pialang.
Resign dan Fokus Kripto, Penghasilan Sebulan Ibu Ini Lampaui Gaji Setahun Kerja Kantoran
Pada 2013, Zhao bertemu dengan seorang pemodal ventura yang dengannya dia bermain poker dan belajar tentang bitcoin. Setelah itu, dia bergabung dengan Blockchain.info, dompet cryptocurrency. Dia bekerja dengan pendukung bitcoin terkenal seperti Roger Ver dan Ben Reeves sebagai kepala pengembangan selama delapan bulan. Dia juga menghabiskan kurang dari satu tahun sebagai chief technology officer OKCoin, platform untuk perdagangan spot aset fiat dan digital.
Saat itu, Zhao juga sedang mempertimbangkan membuat pertukaran aset digital miliknya sendiri yang tidak akan berurusan dengan mata uang fiat. Pada Juli 2017, akhirnya dia menciptakan Binance, setelah mengumpulkan 15 juta dolar AS dalam penawaran koin awal.
Bangun Bursa di Indonesia, CEO Binance: RI Berpotensi Jadi Pusat Ekosistem Kripto di ASEAN
Dalam waktu kurang dari delapan bulan, Zhao mengembangkan Binance menjadi bursa mata uang kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan.
Meski Binance dibentuk baru sekitar empat tahun lalu, namun sudah mendominasi pasar mata uang digital. Binance, menurut data dari CryptoCompare, mengeksekusi lebih banyak transaksi cryptocurrency harian senilai 76 miliar dolar AS daripada gabungan empat pesaing terdekatnya.
Binance Gandeng Anak Usaha Telkom Bentuk Bursa Kripto di Indonesia
Binance menghasilkan uang dari biaya perdagangan, bunga pinjaman, biaya dari program broker, spread, barang cloud, biaya pertukaran, layanan penambangan, dan pendapatan investasi.
Editor: Jujuk Ernawati